Monday, 19 October 2026
STAI Jannatul Firdaus Menu
Navigasi
Kategori
Label

Menelusuri Jejak Sejarah Zikir Selawat Aceh, Warisan Syekh Abdurrauf dan Hamzah Fansuri

Penulis Super Admin
Tanggal Terbit 16 Sep 2026
238 Views
Menelusuri Jejak Sejarah Zikir Selawat Aceh, Warisan Syekh Abdurrauf dan Hamzah Fansuri
Dosen STAI Jannatul Firdaus

SUBULUSSALAM โ€“ Tradisi zikir selawat yang terus hidup di tengah masyarakat Aceh bukan sekadar rutinitas keagamaan. Di balik lantunan zikir dan syair pujian kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, tersimpan sejarah panjang yang menghubungkan generasi Muslim Aceh dengan warisan dakwah ulama besar, Syekh Abdurrauf As-Singkili dan Syekh Hamzah Fansuri.

Hal tersebut menjadi pokok pembahasan dalam kajian khusus Sejarah Zikir Selawat yang disampaikan Sekretaris PCNU Subulussalam, Teungku Agustari Husni, S.Pd.I., M.Pd., pada Selasa, 15 September 2026.

Memahami Asal-Usul Tradisi Zikir Selawat

Dalam kajian tersebut, Teungku Agustari menjelaskan bahwa praktik zikir selawat yang diamalkan masyarakat Aceh memiliki akar sejarah yang telah berkembang sejak sekitar empat abad silam. Tradisi ini tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan berkaitan dengan peran ulama dalam membangun pemahaman dan pengamalan Islam di tengah masyarakat.

"Apa yang kita lakukan saat zikir selawat ini bukan hal baru. Ini sudah diajarkan Syekh Abdurrauf dan Syekh Hamzah Fansuri sejak 400 tahun lalu," ujar Teungku Agustari.

Ia menekankan bahwa mengenali sejarah zikir selawat merupakan bagian penting dalam menjaga pemahaman keagamaan. Menurutnya, masyarakat perlu mengetahui asal-usul, guru, serta tujuan dari tradisi yang dijalankan agar pengamalannya tidak berhenti pada kebiasaan semata.

Syekh Abdurrauf As-Singkili dan Penguatan Tradisi Maulid

Salah satu tokoh yang dibahas adalah Syekh Abdurrauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri as-Singkili, ulama besar yang dikenal sebagai mufti Kesultanan Aceh Darussalam pada abad ke-17 M.

Teungku Agustari menerangkan bahwa Syekh Abdurrauf berperan dalam melembagakan peringatan Maulid Nabi secara luas di lingkungan meunasah dan masjid. Dalam pelaksanaannya, masyarakat diarahkan untuk berkumpul, khususnya pada malam Jumat dan bulan Rabiul Awal, dengan rangkaian kegiatan berupa zikir, selawat, serta pengkajian sirah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

"Syekh Abdurrauf ingin Islam Aceh diamalkan. Lewat zikir selawat, masyarakat awam mudah dekat dengan Nabi," jelasnya.

Selain sebagai sarana ibadah dan pembelajaran, majelis zikir juga dipaparkan sebagai ruang yang mempererat persaudaraan umat. Perbedaan kedudukan sosial tidak menjadi penghalang bagi masyarakat untuk duduk bersama dalam satu majelis.

"Dari sinilah lahir kekuatan Aceh. Umat bersatu dulu di majelis zikir sebelum bersatu di medan juang," ungkap Teungku Agustari.

Hamzah Fansuri, Penyair yang Menghidupkan Pesan Dakwah Melalui Syair

Pembahasan berikutnya menyoroti Syekh Hamzah bin Syamsuddin al-Fansuri, yang dikenal sebagai tokoh sufi dan penyair besar Aceh pada abad ke-16.

Menurut Teungku Agustari, kontribusi Hamzah Fansuri terhadap tradisi zikir selawat tampak melalui karya-karya syair yang mengandung pesan tauhid, kecintaan kepada Rasulullah, dan nilai-nilai keislaman. Syair tersebut menjadi media dakwah yang menyampaikan ajaran agama dengan bahasa puitis dan mudah diingat.

"Syair Hamzah Fansuri itu dakwah. Bahasanya indah, maknanya dalam. Lewat syair, anak-anak hafal sejarah Nabi tanpa dipaksa," tuturnya.

Sejumlah bait syair yang dinisbatkan kepada Hamzah Fansuri masih dilantunkan dalam tradisi zikir selawat masyarakat Aceh. Kehadiran syair tersebut memberikan dimensi spiritual dan emosional yang memperkaya lantunan selawat, sekaligus memperkuat pesan kecintaan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

"Tanpa Hamzah Fansuri, zikir selawat kita mungkin kering. Beliau yang memberikan rasa," kata Teungku Agustari.

Regenerasi Menjadi Tantangan Pelestarian Zikir Selawat

Menjelang akhir kajian, Teungku Agustari mengajak masyarakat memberikan perhatian lebih terhadap keberlanjutan tradisi zikir selawat, terutama melalui pembinaan generasi muda.

Ia menyampaikan kekhawatiran bahwa warisan keagamaan tersebut dapat mengalami kemunduran apabila tidak disertai proses kaderisasi. Perkembangan era digital, yang membuat anak muda semakin dekat dengan perangkat teknologi, dinilai menjadi salah satu tantangan dalam menjaga keterlibatan mereka di majelis zikir.

"Bayangkan 20 tahun lagi. Kalau pemuda tidak ada yang bisa pimpin zikir, siapa yang lanjutkan? Jangan sampai kita yang memutuskan mata rantai Syeikh Abdurrauf dan Hamzah Fansuri," tegasnya.

Pesan tersebut menjadi penutup kajian sekaligus pengingat bahwa pelestarian zikir selawat Aceh tidak hanya bergantung pada pelaksanaan tradisi hari ini, tetapi juga pada kemampuan generasi sekarang mewariskan ilmu, nilai, dan praktiknya kepada generasi berikutnya.

0 Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tinggalkan Komentar
Beranda
Berita
SPMB
Program
Fasilitas